Laman

Kamis, 05 Mei 2011

 
SPESIES INVASIF

Pendahuluan
Menurut Wikipedia (2008), spesies invasif mempunyai beberapa macam definisi, yaitu (1) non-indigenous species atau spesies asing yang menyebabkan habitat diinvasi dan dapat merugikan baik secara ekonomis, lingkungan maupun ekologis; (2) native dan non-native species, spesies yang mengkoloni secara berat habitat tertentu; dan (3) widespread non-indigenous species, spesies yang mengekspansi suatu habitat. Jadi spesies invasif mencakup spesies asing (eksotik) dan spesies asli yang tumbuh di habitat alaminya.
Karakter spesies invasif antara lain: tumbuh cepat, reproduksi cepat, kemampuan menyebar tinggi, toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan, kemampuan untuk hidup dengan jenis makan yang beragam, reproduksi aseksual, dan berasosiasi dengan manusia.
Spesies asing invasif adalah spesies-spesies flora maupun fauna, termasuk mikroorganisma yang hidup di luar habitat alaminya, tumbuh dengan pesat karena tidak mempunyai musuh alami, sehingga menjadi gulma, hama dan penyakit pada spesies-spesies asli.
(1)     Berdasarkan data The Invasive Species Specialist Group/ISSG (2004) terdapat sekitar 100 spesies yang sangat invasif, termasuk diantaranya kirinyu (Chromolaena odorata) (Lampiran 1). Invasi hayati oleh spesies-spesies saat ini telah disadari sebagai salah satu ancaman pada keberlangsungan keanekaragaman hayat dan ekosistem asli.  Sebagai kompetitor, predator, patogen dan parasit, spesies-spesies asing invasif ini mampu merambah semua bagian ekosistem alami/asli dan menyebabkan punahnya spesies-spesies asli.  Dalam skala besar spesies asing invasif ini mampu merusak ekosistem alami/asli.
Selama jutaan tahun, hambatan alam berupa lautan, pegunungan, sungai dan gurun menjadi isolasi alam yang berfungsi sebagai penghalang pergerakan alami sehingga keunikan berbagai spesies dan ekosistem tetap terjaga.  Penghalang alam yang telah ada dalam ratusan tahun tersebut menjadi tidak efektif disebabkan berbagai perubahan global yang membuat suatu spesies dapat berpindah melintasi jarak yang jauh dan masuk ke suatu habitat baru dan menjadi spesies asing invasif.
Penghalang alami yang mampu menahan interaksi berbagai spesies selama jutaan tahun telah berakhir dengan meningkatnya pergerakan dan kegiatan manusia.  Transportasi global, pertumbuhan volume perdagangan dan wisata serta ditambah adanya perdagangan bebas memberikan kesempatan yang lebih besar bagi suatu spesies untuk berpindah dari habitat aslinya.  Penghalang pergerakan alami yang semula mampu mengisolasi pergerakan spesies-spesies asing ini dapat terjadi secara disengaja, melalui introduksi spesies komoditas, perdagangan dan kepariwisataan, atau tidak disengaja, melalui penempelan berbagai spesies makhluk hidup ini pada kapal, kontainer, mobil, benih, dan tanah.


Introduksi Spesies Asing
Menurut definisi International Union for Conservation of Natural Resources/IUCN seperti dikutip KLH (2002), introduksi adalah suatu pergerakan oleh kegiatan manusia, berupa spesies, subspesies atau organisme pada tingkatan takson yang lebih rendah, keluar dari tempat asalnya.  Pergerakan atau perpindahan ini dapat terjadi di dalam negara atau antar negara.
Introduksi dilakukan oleh manusia karena beberapa alasan :
  1. Aspek ekonomi (bisnis).  Introduksi hewan dan tanaman hias merupakan bisnis yang besar.  Kecenderungan manusia untuk menyukai sesuatu yang bersifat lain, unik ataupun aneh menyebabkan manusia mengintroduksi hewan atau tanaman yang belum pernah dilihat atau disaksikan
  2. Memenuhi kebutuhan makanan.  Berbagai hewan (ternak), termasuk ikan yang diintroduksi oleh manusia dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan makanan.  Dari sekian spesies hewan dan tanaman, dipilih spesies-spesies yang memiliki pertumbuhan cepat dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan barunya, mudah diangkut dan dipindahkan dan mengandung unsur gizi yang besar.
  3. Memanipulasi ekosistem.  Hal ini dilakukan pada kasus introduksi musuh alami suatu organisme pengganggu.
Pemasukan, penyebaran dan penggunaan berbagai spesies asing baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja yang kemudian menjadi invasif telah menyebabkan kerugian ekologi dan ekonomi yang cukup besar.  Kerugian berupa kerusakan lingkungan akibat invasi spesies asng umumnya sangat sulit untuk dipulihkan lagi, karena berkaitan dengan makhluk hidup yang mampu melakukan adaptasi, tumbuh dan berkembang.  Kepunahan suatu spesies organisme lokal merupakan suatu spesies kerusakan yang tidak dapat diperbaharui.
Beberapa spesies dan varitas baru yang secara teknis, ekonomis, sosial dan ekologis diperlukan dan secara nyata telah memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat.  Namun, banyak spesies asing yang sebenarnya dapat berdampak buruk bagi ekosistem asli.
Hama, gulma dan penyakit yang muncul dari introduksi spesies asing invasif ini menurunkan hasil panen, menjadi pesaing pada spesies-spesies tanaman dan ternak komoditas, dan mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Perangkat Peraturan dan Hukum untuk Pengendalian Spesies Invasif
Spesies asing invasif menjadi ancaman penting bagi keanekaragaman hayati.  Oleh karena itu di dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati yang telah diratifikasi Indonesia dengan UU No.5 Tahun 1994 secara khusus pada pasal 8(h) memberikan amanat agar setiap negara wajib sejauh mungkin menghindari introduksi spesies asing invasif, melakukan pengendalian dan pemusnahan spesies asing invasif tersebut yang akan menimbulkan dampak lingkungan dan kerusakan keanekaragaman hayati asli.
Selanjutnya pada Konferensi Para Pihak ke empat Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP IV CBD) pada tahun 1998 di Bratislava telah mengamanatkan pada para Pihak untuk mengembangkan upaya pendidikan, pelatihan dan penyadaran masyarakat secara efektif dan sekaligus mengembangkan program kampanye dan penyebaran informasi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan permasalahan pengendalian spesies asing, termasuk pengkajian dan pengelolaan dampak yang mungkin timbul akibat introduksi spesies asing.
Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang didalamnya terkait juga dengan permasalahan introduksi spesies tumbuhan dan hewan asing. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Pasal 3 ayat (1) mengenai spesies usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup termasuk butif 1.f., yaitu introduksi spesies tumbuh-tumbuhan, spesies hewan, dan jasad renik.  Kegiatan introduksi ini wajib melaksanakan AMDAL.  Namun demikian pedoman pengkajian resiko dan pengelolaan resiko yang berkait dengan introduksi spesies ini sampai sekarang belum dikembangkan.
Berbagai Kasus Spesies Invasif di Indonesia
Introduksi spesies asing di Indonesia telah lama terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja.  Introduksi spesies asing tersebut dalam beberapa kasus telah menimbulkan dampak yang cukup besar.  Spesies asing berupa gulma, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar di sektor pertanian.  Sementara itu ada pula spesies asing yang berubah menjadi spesies yang dominan dan berkompetisi dengan spesies lokal yang pada akhirnya mengganggu keberadaan spesies lokal. Disamping spesies asing, terdapat juga spesies asli yang invasif.
Berikut ini beberapa kasus spesies invasif, baik tumbuhan maupun satwa, yang terjadi di sektor kehutanan, khususnya di kawasan konservasi.
  1. Taman Nasional Ujung Kulon
Keberadaan langkap (Arenga obtusifolia) di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon Banten, walaupun bukan spesies asing sangat mengganggu habitat satwaliar, terutama Badak Jawa.  Hampir sebagian besar kawasan TN Ujung Kulon diinvasi dan didominasi oleh langkap, sehingga menekan habitat tumbuhan lain yang berfungsi sebagai pakan Badak Jawa (Arief, 1995).
2. Taman Nasional Baluran
Salah satu alasan ditetapkannya Baluran sebagai Taman Nasional adalah karena adanya padang savana alami yang cukup luas (10.000 ha) yang dihuni oleh berbagai spesies satwaliar langka dan dilindungi salah satu diantaranya Banteng (Bos javanicus).  Oleh karena itu keberadaan ekosistem savana dan banteng menjadi salah satu objek utama dan sekaligus prioritas dalam pengelolaan kawasan TN Baluran Jawa Timur.
Luas areal padang savana dari tahun ke tahun mengalami penyusutan/penyempitan akibat invasi akasia (Acacia nilotica) yang semula ditanam pada tahun 1969 sebagai sekat bakar (Mutaqin, 2002).  Pertumbuhan atau perkembangan akasia ini sangat pesat hingga menyebar ke seluruh kawasan savana Baluran, yang diperkirakan sudah mencapai 5.000 ha.  Akibatnya ekosistem savana yang semula sebagai habitat satwa telah berubah menjadi hutan akasia yang sangat rapat dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan bahkan dapat mematikan rumput sebagai pakan satwa, terutama untu banten dan rusa.
3.Taman Nasional Wasur
Di Taman Nasional Wasur, Papua, terdapat beberapa spesies flora dan fauna eksotik atau asing yang berpotensi mengancam kelestarian flora dan fauna asli dan keberadaan ekosistem TN Wasur.  Jenis-jenis flora eksotik tersebut adalah (KLH 2002):
(2)  Eceng gondok (Eichornia crassipes)
Spesies tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes) masuk ke TN Wasur pada tahun 1990 dan menginvansi sungai-sungai besar seperti Sungai Maro dan Sungai Wanggo serta anak-anak sungainya, yang mengakibatkan terganggunya transportasi air dan pendangkalan sungai karena akarnya mengikat lumpur yang terdapat di sekitarnya.  Pada tahun 2000 luasan tumbuhan eceng ini telah menyebar sampai ke daerah hilir sungai yang berbatasan dengan Papua Nugini.
(3)     Kirinyuh (Chromolaena odorata)
Tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata) menginvasi kawasan TN Wasur di daerah tepi jalan Trans Irian km 35 dan sekitar kebun-kebun masyarakat, yang bersaing dengan rumput-rumput asli.  Kehadiran spesies tumbuhan ini sangat berpotensi sebagai material terjadinya kebakaran hutan pada musim kemarau.
(4)     Klampis air atau putri malu raksasa (Mimosa pigra)
Tumbuhan klampis air (Mimosa pigra) telah tersebar di TN Wasur seluas 15,6 ha menutupi kedua sisi tepi Sungai Maro sampai Sungai Wanggo.
(5)     Ekor tikus atau jarong (Stachytarpheta urticaefolia)
Semak ekor tikus (Stachytarpheta urticaefolia) tersebar di daerah padang rumput Ukra dan Kankania seluas 403 ha.  Biji spesies tumbuhan ini mempunyai sifat tahan terhadap pembakaran, sehingga dapat berkecambah kembali pada awal musim penghujan di daerah padang rumput.
(6)      Spesies tumbuhan eksotik lainnya adalah tebu rawa (Hanguana sp.), selada air (Pistea sp.), salvinia (Salvinia sp.), sidagori (Sida acuta), saliara (Lantana camara), akasia (Acacia nilotica).
Keenam spesies tumbuhan tersebut berpotensi mengancam kelestarian spesies flora dan fauna endemik, disamping itu pengendalian untuk spesies tumbuhan tersebut belum banyak dilakukan.
(7)     Sapi
Sapi masuk ke padang pengembalaan TN Wasur diawali dengan terbitnya Surat Keputusan Kepala Daerah Tk. I Propinsi Irian Jaya pada tahun 1979 yang menunjuk daerah padang pengembalaan TN Wasur di daerah Tomerau dan sekitarnya sebagai lokasi pengembalaan sapi masyarakat. Jumlah sapi yang tinggal di kawasan taman nasional berjumlah 1.146 ekor pada tahun 1991 dan berkembang menjadi 1.525 ekor pada tahun 1997, dan pada tahun 1999 jumlah tersebut bertambah menjadi 2.115 ekor. Keberadaan sapi di dalam kawasan TN Wasur memberikan dampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem kawasan TN Wasur yaitu menimbulkan persaingan sumber pakan dan sumber air dengan jenis fauna endemik kangguru/wallaby.  Selain itu kehadiran sapi ternak dalam jumlah yang banyak, mengakibatkan pemadatan tanah, sehingga menghambat pertumbuhan rumput asli.
(8)     Rusa (Cervus timorensis)
Rusa timor menginvasi daerah padang rumput bagian tenggara TN Wasur.  Berdasarkan survey WWF pada tahun 1990, diketahui bahwa populasi rusa di TN Wasur diperkirakan sekitar 5985 ekor, dengan kerapatan individu 9,7 ekor/km2.  Pada survey udara yang dilakukan tahun 1992-1994, populasi rusa berjumlah sekitar 12.000 ekor, dan berdasarkan survey darat yang dilakukan pada tahun 1997, diketahui populasi rusa sekitar 9.173 ekor (KLH, 2002).

Referensi
Arief, H. 1995.  Lebensraumpraferenzen das Javanashorn im Ujung Kulon National Park, West Java, Indonesien. Thesis.  Institut fur Wildbiologie und Jagkunde. Georg-August Universitat, Gottingen.
ISSG.  2004.  100 of the world’s worst invasive alien species.  ISSG: Auckland
KLH. 2002. Keanekaragaman hayati dan pengendalian jenis asing invasif. KLH-the Nature Conservancy: Jakarta
Mutaqin, I.Z. 2002.  Upaya penanggulangan tanaman eksotik Acacia nilotica di kawasan Taman Nasional Baluran, dalam KLH (2002), Keanekaragaman hayati dan pengendalian jenis asing invasif. KLH-the Nature Conservancy: Jakarta, pp: 39-48.
Wikipedia. 2008. Invasive species. http://en.wikipedia.org/wiki/Invasive_species.[25 Maret 2008]
Lampiran 1.
100 OF THE WORLD ‘S WORST INVASIVE ALLIEN SPECIES
MICRO-ORGANISM
avian malaria (Plasmodium relictum)
banana bunchy top virus (Banana bunchy top virus)
rinderpest virus (Rinderpest virus)

MACRO-FUNGI
chestnut blight (Cryphonectria parasitica)
crayfish plague (Aphanomyces astaci)
Dutch elm disease (Ophiostoma ulmi)
frog chytrid fungus (Batrachochytrium dendrobatidis)
phytophthora root rot (Phytophthora cinnamomi)

AQUATIC PLANT
caulerpa seaweed (Caulerpa taxifolia)
common cord-grass (Spartina anglica)
wakame seaweed (Undaria pinnatifida)
water hyacinth (Eichhornia crassipes)

LAND PLANT
African tulip tree (Spathodea campanulata)
black wattle (Acacia mearnsii)
Brazilian pepper tree (Schinus terebinthifolius)
cogon grass (Imperata cylindrica)
cluster pine (Pinus pinaster)
erect pricklypear (Opuntia stricta)
fire tree (Myrica faya)
giant reed (Arundo donax)
gorse (Ulex europaeus)
hiptage (Hiptage benghalensis)
Japanese knotweed (Fallopia japonica)
Kahili ginger (Hedychium gardnerianum)
Koster’s curse (Clidemia hirta)
kudzu (Pueraria montana var. lobata)
lantana (Lantana camara)
leafy spurge (Euphorbia esula)
leucaena (Leucaena leucocephala)
melaleuca (Melaleuca quinquenervia)
mesquite (Prosopis glandulosa)
miconia (Miconia calvescens)
mile-a-minute weed (Mikania micrantha)
mimosa (Mimosa pigra)
privet (Ligustrum robustum)
pumpwood (Cecropia peltata)
purple loosestrife (Lythrum salicaria)
quinine tree (Cinchona pubescens)
shoebutton ardisia (Ardisia elliptica)
Siam weed (Chromolaena odorata)
strawberry guava (Psidium cattleianum)
tamarisk (Tamarix ramosissima)
wedelia (Sphagneticola trilobata)
yellow Himalayan raspberry (Rubus ellipticus)

AQUATIC INVERTEBRATE
Chinese mitten crab (Eriocheir sinensis)
comb jelly (Mnemiopsis leidyi)
fish hook flea (Cercopagis pengoi)
golden apple snail (Pomacea canaliculata)
green crab (Carcinus maenas)
marine clam (Potamocorbula amurensis)
Mediterranean mussel (Mytilus galloprovincialis)
Northern Pacific seastar (Asterias amurensis)
zebra mussel (Dreissena polymorpha)


LAND INVERTEBRATE
Argentine ant (Linepithema humile)
Asian longhorned beetle (Anoplophora glabripennis)
Asian tiger mosquito (Aedes albopictus)
big-headed ant (Pheidole megacephala)
common malaria mosquito (Anopheles quadrimaculatus)
common wasp (Vespula vulgaris)
crazy ant (Anoplolepis gracilipes)
cypress aphid (Cinara cupressi)
flatworm (Platydemus manokwari)
Formosan subterranean termite (Coptotermes formosanus shiraki)
giant African snail (Achatina fulica)
gypsy moth (Lymantria dispar)
khapra beetle (Trogoderma granarium)
little fire ant (Wasmannia auropunctata)
red imported fire ant (Solenopsis invicta)
rosy wolf snail (Euglandina rosea)
sweet potato whitefly (Bemisia tabaci)

AMPHIBIAN
bullfrog (Rana catesbeiana)
cane toad (Bufo marinus)
Caribbean tree frog (Eleutherodactylus coqui)

FISH
brown trout (Salmo trutta)
carp (Cyprinus carpio)
large-mouth bass (Micropterus salmoides)
Mozambique tilapia (Oreochromis mossambicus)
Nile perch (Lates niloticus)
rainbow trout (Oncorhynchus mykiss)
walking catfish (Clarias batrachus)
Western mosquito fish (Gambusia affinis)

BIRD
Indian myna bird (Acridotheres tristis)
red-vented bulbul (Pycnonotus cafer)
starling (Sturnus vulgaris)

REPTILE
brown tree snake (Boiga irregularis)
red-eared slider (Trachemys scripta)
MAMMAL brushtail possum (Trichosurus vulpecula)
domestic cat (Felis catus)
goat (Capra hircus)
grey squirrel (Sciurus carolinensis)
macaque monkey (Macaca fascicularis)
mouse (Mus musculus)
nutria (Myocastor coypus)
pig (Sus scrofa)
rabbit (Oryctolagus cuniculus)
red deer (Cervus elaphus)
red fox (Vulpes vulpes)
ship rat (Rattus rattus)
small Indian mongoose (Herpestes javanicus)
stoat (Mustela erminea)
Sumber : www.issg.org/database
  • Share/Bookmark
 

No Responses to “Spesies Invasif”


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Recent Posts

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar